Mengenal Masjid Jogokariyan (3) Membuang Perbedaan Kultur Kampung

maghfur, 22 Jun 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

NAMA “Masjid Jogokariyan” dipilih oleh para pendiri dan perintis dakwah karena beberapa alasan. Penelitan yang ada mengungkapkan bahwa, alasan-alasan pemilihan nama tersebut antara lain.

• Berpegang pada Sunnah Rasulullah SAW, ketika memberi nama pada masjid, hal yang nabi lakukan adalah membubuhkan nama kampung atau lokasi keberadaan masjid tersebut. Sebagai misal, Masjid Kuba di Madinah yang berada di Kampung Kuba. Demikian halnya dengan Masjid Bani Salamah yang berada di Kampung Bani Salamah. Bahkan, akibat adanya peralihan arah kiblat, masjid tersebut juga berganti nama menjadi Kampung Kimblatain

• Para pendiri Masjid Jogokariyan berharap masyarakat lebih mudah menemukan lokasi atau keberadaan masjid itu. Pemberian nama “Jogokariyan” sebagaimana nama kampungnya secara otomatis akan langsung mengasosiasikan masjid tersebut dengan wilayah teritorialnya. Dengan demikian, masyarakat akan lebih mudah untuk menemukan lokasi dakwah Masjid Jogokariyan.

• Pemilihan nama “Jogokariyan” diyakini akan mampu merekatkan dan mempersatukan masyarakat Jogokariyan yang sebelumnya terpecah belah karena perbedaan aliran dan gerakan politik. Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, masyarakat Jogokariyan pernah terlibat dalam gejolak politik di masa demokrasi liberal yang puncaknya adalah tragedi 30 September 1965. Pemberian nama “Jogokariyan” dimaksudkan untuk menghancurkan perbedaan pandangan tersebut dan menyatukan penduduk berbasis kultur kampung.

Masjid Jogokariyan memiliki visi, yaitu “Terwujudnya masyarakat sejahtera lahir batin yang diridhoi Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid”. Sementara itu, misi dari Masjid Jogokakariyan adalah menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat; memakmurkan kegiatan ubudiyah di masjid; menjadikan masjid sebagai tempat rekreasi rohani jama’ah; menjadikan masjid tempat merujuk berbagai persoalan; dan menjadikan masjid sebagai pesantren dan kampus masyarakat

Jangkauan syiar Masjid Jogokariyan sendiri sebetulnya hanya mencakup empat RW (Rukun Warga) yaitu RW 9 dan 12 serta 18 RT (Rukun Tetangga) yaitu RT 30 s.d. 47 dengan estimasi jangkaun 3970 jiwa dan 887 kepala keluarga. 

Seperti diketahui 95 persen penduduk Kampung Jogokariyan memeluk agama Islam dan, sisanya beragama Kristen dan Katolik. Batas wilayah dakwah Masjid Jogokariyan di sebelah utara adalah Kampung Mantrijeron dan Kampung Jageran, sementara di sebelah selatan adalah Kampung Krapyak Wetan dan di sebelah timur adalah Jalan Parangtritis.

Keberadaan Masjid Jogokariyan selain untuk mensyiarkan nilai-nilai Islam juga berupaya untuk “menyatu” dengan kearifan lokal yang ada di masyarakat setempat. Hal itu tergambar dalam logo masjid yang memiliki tiga unsur bahasa, yaitu Arab, Indonesia, dan Jawa. Menurut penuturan para pendiri, Masjid Jogokariyan ingin membentuk karakter umat yang shalih sutuhnya dengan tidak tercerabut dari unsur-unsur budaya setempat. (maghfur/dari berbagai sumber)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu