Berdamai dengan Sikap Perfeksionis, Mungkinkah?

maghfur, 03 Sep 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

Oleh Galuhpritta Anisaningtyas, M. Psi

KEPRIBADIAN sifat dan watak pastinya dimiliki oleh setiap orang. Allah SWT menganugerahi manusia dengan karakternya masing-masing. Dari karakter itu seorang manusia dikenal oleh lingkungannya. Sebagai contoh “si Fulan orangnya sabar sekali” atau “si Fulan kerjaannya marah-marah terus” dan masih banyak lagi contohnya. 

Bagaimana dengan perfeksionis? Apakah Anda mengenal karakter perfeksionis? Perfeksionisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keyakinan bahwa seseorang harus menjadi sempurna untuk mencapai kondisi terbaik pada aspek fisik maupun non materi, sedangkan perfeksionis adalah orang yang memiliki pandangan perfeksionisme. 

Di kehidupan sehari-hari, orang-orang lebih sering mendengar kata perfeksionis dari pada perfeksionisme. Dapat diartikan bahwa perfeksionis adalah seseorang yang ingin segala-galanya sempurna dan percaya bahwa hidup tanpa kesalahan adalah baik. 

Kata kesempurnaan bukan diartikan sebagai kesombongan, namun keyakinan dalam diri untuk melakukan segala sesuatu tanpa salah dan cacat. Secara psikologis, keyakinan tersebut melekat di dalam diri dan dimanefestasikan ke dalam perilaku sehari-hari.

Ciri seserang memiliki sifat / karakter perfeksionis misalnya, memiliki dan menetapkan ekspektasi yang berlebihan dan cenderung tidak realistis dalam hidup. Dia menetapkan standar tinggi dalam hidup, tidak mudah percaya kepada orang lain, mengontrol segala hal yang terjadi, Mmemiliki ekspektasi yang tidak masuk akal kepada orang lain

Ciri lain dari mereka yang memiliki sifat perfeksionis adalah memiliki level stress yang tinggi, karena semua harus berjalan sesuai keinginan. Karena level stress yang tinggi dan semua harus berjalan sesuai rencana, maka ia menjadi takut salah.

Perfeksionis menetapkan standar tinggi pada kehidupannya adalah apapun yang dilakukan harus mengikuti standarnya yang terkadang tidak realistis untuk dicapai, namun seorang perfeksionis percaya bahwa ia akan mendapatkan apa yang dimau dan yang telah direncanakan. 

Ekspektasi seorang perfeksionis begitu tinggi terhadap orang lain. Menurutnya, seseorang harus bersikap yang sama dengannya. Untuk itu, seorang yang perfeksionis tidak mudah percaya kepada orang lain, contohnya ketika diberikan tugas yang harus diselesaikan bersama-sama. Ketidakpercayaan itu membuat mereka yang perfeksionis memilih menghandle semua tugas-tugas yang ada, karena menurutnya orang lain tidak bisa mengerjakan sebaik dirinya. 

Selain itu, seseorang yang perfeksionis tidak bisa melihat sedikit saja kesalahan, misalnya ketika membuat sebuah garis. Garis tersebut harus benar-benar lurus dan tidak boleh ada sedikitpun garis yang bengkok atau miring yang membuat hasilnya tidak sempurna. Segala sesuatu harus berjalan sesuai dengan keinginan dan ekspektasinya.

Ketika seseorang memacu dirinya untuk melakukan segala sesuatu dengan sempurna, maka secara psikologis akan menimbulkan stres. Stres yang dirasakan adalah bahwa apapun yang dilakukan dirinya harus selalu sempurna sesuai dengan apa yang diingkannya, bahkan hal itu juga diberlakukan untuk orang lain, agar mengikuti apa yang ada di dalam ekspektasinya. 

Seorang perfeksionis akan dihantui ketakutan, yaitu takut melakukan kesalahan. Jika ia merasa melakukan kesalahan, maka seakan dunia hancur dan merasa bahwa semua orang memandanganya buruk karena tidak melalukan sesuatu dengan sempurna. 

Apa yang terjadi pada seorang yang perfeksionis? Mengapa seseorang bisa memiliki sifat / karakter perfeksionis? Segala hal yang terjadi dalam hidup memiliki sejarah. Begitu juga manusia yang memiliki sejarah hidup. Sejarah hidup yang tersimpan di dalam memori. Memori yang tersimpan bisa memori baik ataupun buruk. Pengalaman hidup pada akhirnya akan membentuk seseorang, dalam hal ini membantuk sifat, sikap dan perilaku bahkan membentuk kepribadian. 

Seseorang dengan sifat / karakter perfeksionis, bisa saja mengalami kondisi dimana dulunya sering disalahkan, bahkan ketika tidak berbuat salahpun, namun tetap disalahkan. Selain itu, perfeksionis dapat terbentuk ketika seseorang tidak dihargai. Apapun yang dilakukannya tidak pernah berharga dimata orang lain, yang terlihat hanya kejelekannya saja, bahkan diejek. 

Beberapa hal di atas bisa terjadi di dalam keluarga, seperti pola asuh orangtua, ataupun perlakuan saudara, baik saudara kandung ataupun saudara dengan hubungan yang lain. Perlakuan seperti di atas juga bisa didapatkan dari lingkungan luar, seperti teman, rekan kerja, bahkan tetangga. 

Diantara penyebab yang  terjadi, yang paling besar dampaknya adalah perlakukan dari keluarga, seperti orangtua dan saudara kandung. Mengapa demikian? Karena orangtua dan saudara kandung pada dasarnya adalah sumber kekuatan dan kepercayaan pada diri seseorang, sehingga apabila keluarga saja tidak menghargai, selalu menyalahkan bahkan mengejek, maka itu akan menjadi pukulan terberat dan akan menyimpan memori buruk sepanjang hidupnya. 

Dinamika psikologisnya adalah ketika seseorang tidak dihargai, sering disalahkan bahkan diejek, hal itu akan menimbulkan perasaan kecewa, marah dan memunculkan pikiran bagaimana agar orang lain menghargai dan tidak lagi menyalahlan bahkan mengejek. 

Pikiran tersebut akan termanifestasikan ke dalam perilaku dimana seseorang akan memacu dirinya untuk berbuat sesempurna mungkin agar tidak disalahkan lagi dan lebih dihargai. Prinsip itu akan dibawa sepanjang hidup, dan apa bila tidak bisa mengendalikannya, maka akan timbul stres berkepanjangan. 

Segala sesuatu yang terjadi pastinya tidak hanya ada kekurangan, namun juga terdapat kelebihan. Seorang yang perfeksionis biasanya mampu mengatur waktu, disiplin, dan memiliki totalitas yang baik. Jika sifat perfeksionis dikelola dengan baik, maka tingkat strespun tidak akan tinggi. 

Beberapa tips berdamai dengan perfeksionis diantarannya  : Sesekali cobalah untuk santai, tidak memikirkan ekspektasi tinggi dan kesempurnaan. Tidak mengapa untuk salah, karena manusia bisa belajar dari kesalahan. Nikmati ketidaksempurnaan, karena tidak ada di dunia ini yang sempurna kecuali Allah SWT

Beristirahatlah, izinkan pikiran dan badan beristirahat, karena pikiran dan badan juga butuh istirahat. Berilah toleransi pada tugas-tugas untuk bisa sedikit ditunda pengerjaannya karena dunia tidak hancur ketika segala sesuatu berjalan tidak sesuai dengan keinginan

Saat kita tidak bisa mengontrol segala sesuatunya, maka serahkanlah pada Allah SWT. Lalu lakukanlah  hal yang menyenangkan seperti berlibur, damaikan diri. Berdamai dengan masa lalu, maafkan diri sendiri dan juga orang lain. Selamat mencoba!

(Galuhpritta Anisaningtyas, M. Psi adalah Dosen Prodi Komunikasi Penyiaran Islam STAI Attaqwa Bekasi)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu