Qaulan Layyinan, Konsep Komunikasi Efektif Versi Al-Quran

maghfur, 03 Sep 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

Oleh : Hj. Ade Nailul Huda

MANUSIA adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi antara satu dengan lainnya, interaksi tersebut salah satunya dikenal dengan nama komunikasi. Komunikasi sendiri merupakan proses penyampaian informasi, keinginan, gagasan, ide dan cara untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya agar bisa dipahami orang lain.


Dengan demikian orang yang tidak memiliki keahlian komunikasi yang baik biasanya akan mudah disalah pahami, hingga komunikasi sangat penting dipelajari sebagai sebuah keahlian dasar yang dimiliki manusia.


Manusia adalah satu satunya makhluk yang Allah anugerahkan kemampuan berbicara dengan sempurna. Dibanding makhluk hidup lain di dunia seperti binatang dan pepohonan, manusia memiliki kemampuan yang lebih luas, lebih ekspresif dan lebih detail menyampaikan gagasan dan ide serta ilmu pengetahuan melalui komunikasi.


Dalam ajaran Islam, Al Quran dipercaya sebagai tuntunan hidup yang lengkap untuk manusia,  salah satunya adalah cara berkomunikasi yang efektif hingga dapat diterima lawan bicara. Dalam Al Quran terdapat  berbagai ayat yang berbicara tentang teori dan cara cara komunikasi. 


Yang paling populer adalah melalui cara yang ditunjukkan para Nabi melalui kegiatan “berdakwah”. Berdakwah merupakan salah satu komunikasi dengan maksud mengajak lawan bicara untuk mengikuti apa yang diserukan, contoh cara cara yang diberikan para Nabi dalam Al Quran ini sangat kaya untuk ditelusuri dan dikaji sebagai konsep komunikasi yang terbukti efektif memberi pengaruh kepada  manusia hingga agama yang dibawa para Nabi masih tetap diikuti mayoritas makhluk hidup di bumi.


Salah satu teori yang dikemukakan Al Quran dalam berkomunikasi adalah Qaulan Layyinan yang termaktub dalam Q.S Thaha ayat 44 : “ Maka berbicaralah kamu berdua (Musa dan Harun) kepadanya (Firaun) dengan perkataan yang lembut, mudah mudahan dia menjadi ingat atau takut”.


Ayat di atas turun terkait dakwah Nabi Musa AS kepada Firaun, seorang raja yang dalam Al Quran digambarkan sebagai penguasa adi kuasa yang memiliki kekuasaan terbesar di muka bumi saat itu (QS Al Qoshos: 4) yang bentangan kekuasaanya beluas gitu luas serta kekayaan kerajaan yang melimpah sekaligus pengikut yang banyak menjadikannya dirinya sombong hingga menganggap dirinya sebagai Tuhan. 

Firaun juga kerap berlaku dzolim dan bertindak diluar batas kemanusiaan kepada golongan yang bukan berasal dari sukunya yaitu Bani Israil. Akhirnya Allah SWT memerintahkan Musa AS dan saudaranya Harun AS untuk memberikan peringatan dengan menggunakan Qaulan Layyinan


Qaulan Layyinan memiliki makna perkataan yang lembut dan mengandung maksud untuk mengajak dan membujuk. Sebagaimana disebutkan mufassir As Shiddiqi dalam Tafsir Bayan. Qaulan Layyinan adalah perkataan lemah lembut yang di dalamnya terdapat harapan agar orang yang diajak bicara teringat pada kewajibannya atau takut meninggalkan kewajibannya. 


Ada beberapa pertimbangan yang menjadikan Qaulan Layyinan dipilih sebagai metode berdakwah kepada Firauan: Pertama, Firaun mengganggap dirinya sangat hebat dan berkuasa dan kerap merendahkan orang diluar dirinya dan bangsanya. Firaun juga menganggap dirinyalah yang paling benar hingga berani memproklamirkan dirinya sebagai tuhan. 


Perkataan lembut diharapkan mampu menaklukkan hatinya yang keras. Tipe manusia seperti Firaun ini tentu saja tidak akan mau mendengar bila diajak berkomunikasi dengan cara yang keras atau merendahkan dirinya.


Kedua, Pemimpin yang keras dan kejam biasanya akan bertindak lebih keras apabila dipaksa atau diajak dengan cara keras, hatinya akan lebih mengeras dan sulit menerima ajakan. Sedangkan Musa AS saat itu datang dari tempat lain dan tidak memiliki kekuasaan apapun selain pertolongan Allah.


Ketiga, dalam sejarahnya Musa AS adalah orang yang dahulu pernah dibesarkan dilingkungan istana Firaun, bahkan pernah dijadikan anak angkat oleh Firaun atas permintaan istrinya Asiyah yang menemukan Musa bayi terapung di sungai Nil, kata kata yang lembut diharapkan mengingatkan kasih sayang Firaun kepada Musa sebagaimana dahulu.


Pemaparan di atas dapat membawa kita pada satu pendapat bahwa Qaulan Layyinan adalah metode berbicara yang efektif digunakan terhadap orang orang yang memiliki kedudukan di atas kita baik dari segi umur, jabatan, maupun harta. Atau kepada orang yang berwatak keras yang sulit menerima kebenaran, saran, gagasan dan usul orang yang dibawahnya.

 
Selain itu Qaulan Layyinan merupakan upaya untuk meyakinkan pihak lain bahwa apa yang dibicarakannya itu benar dan rasional, sebab fitrah hati manusia lebih mudah terpikat saat mendengar perkataan yang lembut dibandingkan ucapan kasar atau memaksa.
Qaulan layyinan ini juga sebaiknya dimiliki oleh para pendakwah sehingga dakwahnya sampai kedalam hati orang yang mendengarkan, meresap ke dalam kalbu dan dapat ditaati dengan sepenuh hati. Ujaran kebencian atau hate speech tidak ada tempat dalam agama Islam dan terbukti dalam banyak sejarah tidak dapat menarik hati manusia untuk mengikuti ajakan dakwah terutama bagi masyarakat yang bersebelahan akidah dan pemahaman.


Islam juga selalu mendorong umatnya untuk berbicara baik, bahkan dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda “ Barangsiapa yang beriman dengan hari akhir hendaknya dia berbicara baik atau (jika tidak bisa) hendaknya dia diam” (HR. Bukhari Muslim). []
(Hj. Ade Nailul Huda, Ph.D, adalah Dosen Studi Islam STAI Attaqwa, Bekasi)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu